amaliAnjani's Blog

Atap Hijau di Hutan Beton

Posted on: January 13, 2011

Atap hijau yang dikenal sebagai green roof, sebenarnya telah dikenal di wilayah skandinavia. Hingga akhir abad 19 masih banyak rumah tadisional di sana yang atapnya berlapiskan rerumputan. Namun seiring perkembangan jaman, model bangunan seperti ini tergusur dengan model bangunan modern.

Namun pada abad 21, untuk menghadapi tuntutan global yang mulai menggalakkan kampanye hijau,mau tak mau para arsitektur harus memutar otak dan green roof inilah salah satu jawaban terbaik. Selain itu, semakin menyempitnya lahan terbuka di wilayah perkotaan, juga menjadi alasan dibutuhkannya green roof. DKI Jakarta dengan lahan seluas 66.126 hektar dan ruang hijau 9 persen atau 5.951 hektar, perlu membebaskan sekitar 13.000 hektar lahan bila ingin memenuhi patokan lazim 30 persen lahan terbuka hijau.

Karena kawasan perkotaan telah terlanjur disesaki bangunan, maka pilihan untuk menghijaukan wilayah perkotaan jatuh kepada atap-atap gedung. Atap-atap gedung ini selalu dibanjiri sinar matahari yang melimpah, sehingga cocok sebagai tempat tumbuh tanaman. Sebenarnya konsep green roof telah dimunculkan oleh jepang pada abad 20 melalui konsep eco-roof. Namun sifat pengembangannya masih ekstensif. Atap hijau jenis ini ditandai struktur atap beton konvensional dengan biaya dan perawatan taman relatif murah karena penghijauan atap hanya mengandalkan tanaman perdu dengan lapisan tanah tipis.

Karena semakin banyaknya tuntutan pembuatan green roof yang lebih beragam dengan multi used, maka para arsitektur berupaya untuuk mencari solusi cerdas untuk  mewujudkannya. Salah satunya adalah intensifikasi taman atap, atau upaya memadukan sistem bangunan dengan sistem penghijauan atap sehingga dapat diciptakan taman melayang (sky garden). Berbeda dengan atap hijau ekstensif yang hanya menghasilkan taman pasif, atap hijau intensif dapat berperan sebagai taman aktif sebagaimana taman di darat.

Dengan lapisan tanah mencapai kedalaman hingga dua meter, atap hijau intensif mensyaratkan struktur bangunan khusus dan perawatan tanaman cukup rumit.  Jenis tanaman tidak hanya sebatas tanaman perdu, tetapi juga pohon besar sehingga mampu menghadirkan satu kesatuan ekosistem. Sehingga selain untuk membuat taman di atap, dengan atap hijau intensif dapat dimungkinkan untuk membuat kebun di atas atap.

Atap hijau ini mampu mengurangi dampak panas akibat kegiatan di dalam bangunan maupun panas yang dihantarkan terhadap bangunan. Hasil pengukuran suhu yang dilakukan perusahaan Obayashi dari Jepang selama tiga hari pada musim panas Agustus 2003 menunjukkan, rata-rata suhu atap hijau mencapai 17° Celsius lebih rendah . Sedangkan panas yang ditransmisikan atap hijau ke dalam bangunan hanya mencapai sepersepuluh dari transmisi panas atap beton konvensional.

Selain itu, konsep bangunan dengan green roof ini dapat digunakan sebagai sarana penarik nilai ekonomis. Misalnya Namba Park, sebuah mal gaya hidup di pusat kota Osaka, Jepang. Diikuti oleh Mori Building Company yang menerapkan konsep green roof  yakni sebagai kebun percobaan di salah satu kompleks superblok Roppongi Hills di Tokyo. Sedangkan Hiroshi Hara menampilkan atap hijau sky way pada ketinggian 50 meter sebagai klimaks kompleks mixed use Stasiun Kyoto.

Selain di Jepang, konsep  atap hijau ini telah diimplementasikan di  Amerika Serikat, Jerman, Australia, Prancis, Selandia Baru, dan Norwegia . Di negara-negara tersebut, berkebun di atap gedung atau di atap rumah dianggap sangat penting. Pemerintah Amerika Serikat dan Selandia baru bahkan sudah membuat peraturan tentang berkebun di atap gedung.

Manfaat atap hijau bukan hanya sebatas peningkatan nilai estetika dan penghematan energi, pengurangan gas rumah kaca, peningkatan kesehatan, pemanfaatan air hujan, serta penurunan frekuensi panas, suara dan getaran, tetapi juga penyediaan saran untuk mempertemukan arsitektur dengan ekosistem lingkungan.

Fakta ini dibuktikan melalui penelitian terhadap Next 21-Osaka, apartemen milik perusahaan Osaka Gas yang bangunan sekaligus penghuninya dijadikan obyek uji coba bangunan hemat energi. Persemaian biji-bijian yang dibawa 19 spesies burung pengunjung rutin atap hijau Next 21 dalam kurun waktu 15 tahun telah menghasilkan habitat lokal dengan 140 jenis tanaman dan pohon. Temuan ini lebih mengukuhkan peran atap hijau bukan hanya sebagai magnet baru bagi masyarakat pada umumnya, tetapi juga sebagai media penarik kembali habitat flora fauna yang selama ini tergusur oleh kerasnya hutan beton kota.

Berikut beberapa gambar bangunan yeng menggunakan konsep green roof

http://www.blogmyair.com/2007/10/can-green-roof-save-you-money.html

http://www.rudydewanto.com/2011/01/green-roof-di-hutan-beton.html

http://www.rudydewanto.com/2011/01/green-roof-di-hutan-beton.html

http://www.livegreencincinnati.com

 

 

 

dikutip dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: