amaliAnjani's Blog

Kutu Buku Siapa Takut

Posted on: January 13, 2011

“apabila saya tidak mencatat temuan-temuan saya, saya tentu akan melupakannya begitu saja. Apabila saya mencatatnya, niscaya saya tidak akan melupakannya….”

(Bethoven, komposer dunia)

Beberapa pendapat menyatakan bahwa anak-anak negeri ini lebih bangga membawa laptop, Ipod, dan blackberry daripada membawa buku. Mungkin mereka takut dicap sebagai kutu buku. Dan yang salah kaprah adalah pendapat yang mengindentikkan seorang kutu buku dengan seseorang yang rendah diri dan introvert serta kuno.

Sepantasnya kita mengelus dada atas pendapat tersebut. Hal tersebut menyatakan secara tersirat bahwa minat baca di negara kita cukup rendah. Maka siap-siap saja peradapan kita tertinggal dari negara- negara tetangga kita di Asia, misalnya Jepang dan Malaysia.

Koran terbitan Tokyo, Jepang, Asashi Shibun pernah melaporkan tingginya minat baca kalangan muda di Jepang dan Malaysia. Di Jepang, dalam sebulan rata-rata seorang remaja mampu melahap lima buku dengan judul “berat” dan puluhan komik.

Jadilah  anak-anak muda tersebut nongkrong di cafe, kampus, dan dimana saja mereka berada dengan membaca buku. Mereka tidak ketinggalan dengan kemajuan teknologi canggih, namun membaca tetap merupakan hal yang utama. Mungkin pendidikan Jepang menitik beratkan akan pentingnya membaca. Yakni sebagai pembuka gerbang menuju kemajuan peradapan. Dan mungkin karena hal inilah, Jepang mampu menjadi kiblat inovasi teknologi.

Seperti yang disampaikan oleh Bethoven pada kalimat pembuka, bahwa teks adalah salah satu cara untuk menceritakan kembali sejarah yang telah terlewat. Tulisan-tulisan atau buku akan merekam semua jejak yang telah dibuat oleh manusia.

Dengan kata lain, buku adalah jendela dunia. Bukan hanya menuju dunia yang jaraknya terlalu jauh, namun juga dunia dunia yang telah terlewat dan juga dunia impian dan imajinasi. Buku akan membawa kita menggapai langit, menyentuh bintang, hingga menyelami samudra. Dengan hanya duduk dan menyeruput segelas teh, kita dapat menjelajahi bagian dunia mana saja yang kita inginkan.

Umumnya bagi anak muda disamping buku sekolah, mereka cenderung menyukai bacaan ringan misalnya teenlit, yang relatif sesuai dengan usia mereka. Namun banyak pihak mencibir kecenderungan ini. Padahal jika kita pikir lagi, demi menyebarkan budaya membaca, bukankah jauh lebih baik jika mereka menyukai teenlit  daripada tidak sama sekali.

Untuk semakin mendorong minat baca anak-anak muda maka tak salah jika kita berharap kepada para orang tua yang mendukung pengembangan minat baca anak. Dan juga kepada para pelaku penerbitan agar terus mencari ide-ide untuk meningkatkan kualitas dari berbagai sisi yang mampu menarik minat baca, misalnya dari segi kemasan dan penterjemahan. Yang perlu diperhatikan adalah anak-anak muda sekarang semakin sadar visual dan bahasa asing.

Mengingat pentingnya budaya membaca, maka semoga tidak akan ada lagi anak-anak muda yang takut dicap sebagai kutu buku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: